oleh

HUT ke-45 Wanala Unair, Pendiri: Anak Pecinta Alam Bisa Jadi Presiden

-Komunitas-1.327 views

Surabaya, SEMANGAT45.net – Mahasiswa Pecinta Alam Wanala Universitas Airlangga (Unair) merupakan organisasi mahasiswa pecinta alam (Mapala) tertua yang ada di Jawa Timur. Menginjak usianya yang ke-45 tahun ini, Wanala Unair telah mencanangkan diri untuk menjadi salah satu organisasi yang memiliki portofolio yang luas di bidang lingkungan hidup sebagai bagian dari strategi pengembangan jangka panjang.

Belum lama ini, Wanala Unair memperingati HUT organisasi dengan menggelar acara silaturahmi di vila Dharma, Prigen, Pasuruan. Momentum ini ditangkap oleh para Anggota Luar Biasa (ALB) Wanala yang notabene sudah menjadi alumni serta pengurus Wanala yang masih aktif kuliah, untuk bertukar pendapat dalam rangka merumuskan strategi jangka panjang organisasi ke depan.

Acara HUT Wanala Unair yang diperingati setiap tanggal 13 April ini telah berhasil menghadirkan ratusan anggota yang berasal dari lintas angkatan diklat (Pendiri-Diklatsar XLI), lintas daerah dan pulau. Bahkan ada beberapa pendiri (founding father) Wanala yang sudah berusia lebih dari 60 tahun juga ikut hadir. Mereka yakni Ibnu Purna, Makhsus, dan Adi Risanto.

Tampak hadir pula meramaikan acara, Burhanuddin Ridwan (Cak Mbur) dan dobel Yoyok (Edi Sucahyo dan Sucahyo Adi) yang masing-masing Diklat II, serta Moch. Anang dari angkatan Diklat III.

(Ibnu Purna cs sedang memberikan motivasinya kepada anggota Wanala yang masih aktif)

Para pendiri Wanala ini memberikan pesan agar anggota terus menanamkan sifat-sifat positif dan keberanian sebagai calon leader agar nantinya bisa berkontribusi bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Mereka juga memberikan motivasi bahwa sebagai mahasiswa pecinta alam harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk bercita-cita dan membuat goal setting.

Jauh dari keinginan untuk masuk ke ranah politik, para founding father Wanala Unair itu mencontohkan sosok figur Presiden RI Joko Widodo yang ternyata juga seorang anak Mapala dari Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta. Setidaknya, semua organisasi pecinta alam di Indonesia harus bangga karena salah satu putra terbaik bangsa, orang nomor satu di Republik Indonesia ini, dulunya juga seorang Pecinta Alam.

(Gogor Waseso memberikan dorongan semangatnya kepada adik-adik Wanala)

Gogor Waseso, merupakan salah satu ALB Wanala yang sukses di bidang wirausaha sektor properti dan kesehatan. Ia memberikan dorongan ke adik-adik Wanala yang masih aktif kuliah untuk terus pantang menyerah dan tabah menghadapi segala kesulitan pada saat berkegiatan di alam bebas.

“Karena nantinya hal itu (mental pantang menyerah) akan sangat berguna pada saat bekerja dan terjun langsung ke masyarakat. Dibutuhkan mental sekuat baja dan selalu inovatif untuk menjadi seorang problem solver di setiap tempat bekerja atau menjalankan startup misalnya, yang kini menjadi impian banyak di antara generasi millenial di Indonesia,” tegasnya.

Dari ALB terakhir yang menjadi pembicara yakni drh Erni Suyanti Musabine (Diklat XVII). Yanti, sapaan Erni Suyanti ini mengatakan bahwa di masa mendatang, dibutuhkan leader-leader yang selain terampil dalam bidang manajerial, juga harus memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap kelangsungan kondisi lingkungan hidup yang baik untuk menjaga bumi dari kerusakan yang lebih parah.

“Pesan positif yang bisa ditangkap adalah, sebagai mahasiswa yang berkegiatan di alam bebas, tidak hanya diisi dengan kegiatan yang bersifat adventurous saja. Tetapi diperlukan juga kegiatan yang memiliki kontribusi yang nyata bagi perbaikan lingkungan baik menyangkut satwa, air, tanah, udara dan lain-lain,” pesannya.

(drh Erni Suyanti Musabine, paling kiri,  foto bersama rekan-rekan Wanala)

Dokter Yanti merupakan salah satu wanita yang sering mendapatkan penghargaan dari media baik cetak maupun elektronik, NGO maupun pemerintah karena kontribusinya terhadap penyelamatan satwa di kawasan Sumatera seperti harimau atau gajah. Hingga saat ini, ia masih aktif di BKSDA Provinsi Bengkulu, Sumatra. Pengabdiannya ini menjadi salah satu inspirasi bagi adik-adik generasi penerus organisasi di Wanala Universitas Airlangga Surabaya ini.

Tak mau ketinggalan, hadir melengkapi kemeriahan acara yang digelar selama dua hari (27-28/4) itu yakni Drs Soetojo Darsosentono, MS. Selain sebagai pengajar di Jurusan Sosiologi FISIP Unair, ia merupakan dosen pembina senior (tertua) yang dimiliki Wanala. Soetojo telah aktif membimbing Wanala Unair sejak tahun 1980 hingga 2010.

Pak Toyo, sapaan Soetojo ini juga memberikan inspirasi dan semangat kepada seluruh anggota yang hadir (ALB dan aktif kuliah) untuk terus berkiprah bagi kemajuan kampus melalui kegiatan yang bersifat pemberdayaan masyarakat dan memiliki pengaruh positif bagi lingkungan sekitar.

(Pak Toyo, pembina senior Wanala Unair sedang memberikan motivasi dan semangat kepada adik-adik yang masih aktif)

Di usia yang semakin matang ini, Wanala Unair yang merupakan salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di lingkungan Universitas Airlangga Surabaya, berkeinginan meneruskan visi dan misinya yang mulia untuk terus berkontribusi bagi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI).

Sejak berdiri pada tahun 1974, kiprah Wanala Unair sudah sangat banyak dan beragam mulai dari kegiatan yang bersifat bakti sosial (baksos), eksplorasi alam dan penelitian, hingga kegiatan-kegiatan besar yang bersifat internasional seperti pendakian 7 (Seven) Summits (rangkaian
gunung tertinggi di dunia).

Jumlah keanggotaan Wanala Unair hingga pelaksanaan diklatsar terakhir (terbaru) yakni Diklat XLI (41), total sekitar 700 orang termasuk ALB. ALB Wanala memiliki beragam latar belakang profesi mulai dari birokrat (PNS), pegawai BUMN, pegawai swasta, wartawan, peneliti, dokter, wiraswasta, anggota NGO, dokter hewan, hingga lawyer dan lain sebagainya.

Hasil yang diharapkan bagi organisasi ini ke depan di mana pada tahun 2024 tepat berusia 50 tahun, selain pencapaian pendakian gunung level internasional, Wanala juga memiliki portofolio yang luas di bidang pemberdayaan masyarakat. Dalam hal ini seperti perbaikan lingkungan hidup yang bisa dimulai dari sekitar Kota Surabaya (lokal), Jawa Timur (regional), nasional, bahkan sampai dunia internasional. (Dicky Arimiantoro/*)

Komentar