oleh

Misteri Kuda Putih di Balik Benteng Van Den Bosch Ngawi

Ngawi, SEMANGAT45.net – Benteng Van Den Bosch yang berada di sekitar area Mako Yonarmed 12/Angicipi Yudha Jl. Untung Suropati No. II, Pelem II, Kel. Pelem, Kec. Ngawi, Kab. Ngawi, Jatim ternyata menyimpan banyak misteri. Mulai dari sejarah, hingga kisah para pahlawan di balik benteng peninggalan zaman Kolonial Belanda itu pun seakan tak ada habisnya untuk ditelusuri.

Bahkan, hal-hal unik pun terasa mengusik rasa penasaran bagi siapapun untuk menggali sekaligus mempelajari lebih dalam tentang bangunan tua tersebut.

Di dalam Benteng tersebut, selain makam KH Muhammad Nur Salim, ternyata juga terdapat makam Eyang Suro yang letaknya tepat di belakang benteng.

Konon, Eyang Suro merupakan seorang yang terpandang kala itu. Bukan hanya seperangkat gamelan saja, akan tetapi Eyang Suro juga memiliki seekor kuda putih. Kuda tersebut dipercaya oleh masyarakat sekitar sering memperlihatkan wujudnya.

“Kadang warga juga sering mendengar alunan musik gamelan, asal suaranya itu dari area makam Eyang Suro,” aku Serka Eko Ratmono, salah satu prajurit Armed 12/Divif 2 Kostrad yang ditunjuk menjadi Kuncen di Benteng Van Den Bosch, Minggu (17/11).

Nyaris menyerupai Robin Hood, lanjut Eko, kala masa penjajahan, Eyang Suro sering kali mencuri barang-barang berharga milik Tentara Belanda. “Beliau merupakan rakyat jelata, tapi terpandang. Sampai sekarang, semua warga Ngawi banyak yang menceritakan Eyang Suro,” lanjutnya.

Danyonarmed 12/Divif 2 Kostrad, Letkol Arm Ronald, F. Siwabessy menuturkan jika makam Eyang Suro adalah memang benar adanya. Bahkan, almamater Akademi Militer tahun 2002 itupun menyebut Eyang Suro merupakan salah satu sosok pahlawan bagi para rakyat jelata.

Meski berada di dalam benteng, Ronald pun tak melarang masyarakat sekitar maupun di luar Kabupaten Ngawi untuk berziarah ke makam Eyang Suro. “Memang benar letaknya di dalam Benteng. Tapi, siapapun boleh mengunjungi makam beliau, asal tidak disalahgunakan,” tegasnya.

Baca juga  KRI Hasanuddin-366 Gelar Latihan Bersama Kapal Perang Brazil

Terpisah, Danmenarmed 1/PY/2 Kostrad, Kolonel Arm Didik Harmono mengatakan jika keberadaan makam para leluhur itu, sudah sepatutnya dijaga dan dirawat. Pasalnya, selain sebagai bentuk penghormatan terhadap para leluhur, makam tersebut juga merupakan simbol ataupun sejarah perjuangan bangsa, terlebih masyarakat Ngawi.

“Sebagaimana pesan Presiden pertama kita, Ir. Soekarno. Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai dan menghormati jasa-jasa para Pahlawannya,” pungkasnya. (*)

Komentar

News Feed